
“Kalau ndak laku, ya gorengannya mbah makan sendiri pake nasi sisa kemarin. Kalau masih ada lebih, biasanya Mbah kasih ke anak-anak pesantren atau orang yang membutuhkan. Daripada dibuang, malah mubazir, nak..” ucap Mbah Supinah.

Di usia 93 tahun, Mbah Supinah masih harus berjualan gorengan setiap hari demi memenuhi kebutuhan hidup.
Dari pagi hingga sore, beliau menunggu pembeli di gerobaknya yang sangat lapuk. Namun setiap hari, dagangannya begitu sepi. Mbah paling banyak dapat Rp30.000, jualan dari pagi sampai sore. Saking lelahnya menunggu, beliau bahkan sering tertidur di gerobaknya.

Meski hidup dalam kekurangan, Mbah Supinah ternyata masih senang berbagi. Jika gorengannya tidak habis, beliau sering memberikannya kepada anak yatim, anak-anak pondok pesantren, atau orang yang membeli dagangannya.
Jika Mbah Supinah sedang sakit, ia tidak bisa jualan. Alhasil tak ada pemasukan, tak bisa makan dan hanya mengandalkan bantuan dari tetangga sekitar.

Di usia ketika seharusnya lebih banyak beristirahat, beliau masih harus bekerja. Bahkan saat dirinya sendiri kekurangan, Mbah Supinah masih memikirkan orang lain. Kini, bolehkah kita gantian menolong Mbah Supinah?
Mungkin bagi kita, Rp20.000, Rp50.000, atau Rp100.000 bukanlah jumlah yang besar. Namun bagi Mbah Supinah, bantuan itu bisa sangat berarti. Jika belum mampu berdonasi, bantu sebarkan kisah Mbah Supinah. Beliau yang selama ini masih mau berbagi ketika dirinya kekurangan, kini semoga dipertemukan dengan banyak orang yang mau berbagi untuknya.
![]()
Menanti doa-doa orang baik