
“kalo liat temenku, rasanya mau nangis gak bisa sekolah kayak mereka..” lirih Alit dengan mata berkaca-kaca dan bibir gemetar menahan air matanya. 
Seharusnya Alit (15 tahun) masih duduk di SMA seperti teman-teman sebayanya. Namun, ujian yang terjadi satu tahun lalu benar-benar merubah hidup Alit. Dia tak lagi sekolah dan harus belajar hidup hanya dengan satu kaki.
“Waktu itu aku lagi dibonceng teman, gak tau gimana detailnya, aku cuma ingat udah tiduran di jalan. Kaki kanan aku terasa sakit sekali dan gak bisa digerakkan…” lirih Alit.

Kecelakaan maut itu membuat tulang di kaki kanan Alit remuk, bahkan sampai menembus keluar dan membusuk. Ibu Alit pun merelakan rumah dan uang tabungannya demi menyelamatkan buah hatinya.
Kini, Alit ikut bantu ibunya cari nafkah dengan jualan es kacang keliling. Esnya Alit ambil dari distributor, lalu setiap hari harus setor Rp200 ribu. Dari hasil jualannya, kadang Alit cuma bisa kasih Rp10 ribu, kadang Rp20 ribu ke ibunya untuk membeli beras.

Hati kami teriris ketika pertama kali melihat Alit mendorong gerobak esnya dengan satu kaki. Di jalan yang rata saja dia tampak kesulitan, bagaimana jika dia bertemu dengan jalanan yang naik turun dan berbatu?

Kak, harapan Alit sekarang dia pengen banget punya kaki palsu dan bisa melanjutkan sekolah agar bisa membanggakan ibunya. Yuk bantu Alit dengan berdonasi di halaman galang dana ini.