

Bayangkan seorang gadis kecil yang sejak usianya 1 tahun telah dipaksa menjalani penderitaan, Mona, yang kini berusia 9 tahun, terus berjuang melawan penyakit autoimun dengan keberanian yang menyayat hati. Setiap hari, Mona harus menahan rasa pedih dan gatal yang membakar kulitnya, seolah-olah setiap sentuhan adalah hukuman yang tak berkesudahan.
Saat air mandi menyentuh tubuhnya yang kemerahan dan mengelupas, tangisan Mona melengking, seakan memanggil agar ada yang peduli di tengah derita yang tak tertahankan. Ayah Mona, dengan hati yang hancur namun penuh tekad, rela menjual harta benda demi secercah harapan untuk mendapatkan perawatan yang mendesak bagi putrinya.
Sementara Ibu Mona, dengan penuh keberanian meski hatinya hancur, harus berjualan gorengan keliling sambil menggendong putrinya yang lemah, setiap langkahnya adalah bukti cinta yang tulus, meskipun dilingkupi oleh kecemasan dan keputusasaan yang mendalam.
“Saya selalu cemas kalo mona diajak jualan keliling, tapi kalau dirumah tidak ada yang menjaga. Kata dokter kulitnya sangat sensitif jangan terlalu lama terpapar matahari dan debu. Namun mau bagaimana lagi jika saya tidak berdagang kami mau bertahank hidup dari mana” tutur ibu Mona

Kondisi Mona saat ini semakin memprihatinkan melihat luka yang semakin banyak dan memerah. Walaupun tubuhnya dipenuhi luka dan rasa sakit yang tak tertahankan, senyum kecil yang kadang tersungging di wajahnya mengingatkan kita bahwa di balik segala penderitaan, masih ada secercah harapan yang menanti untuk dihidupkan kembali. Setiap helaan napas Mona adalah perlawanan terhadap nasib, sebuah panggilan untuk merasakan keajaiban kasih sayang manusia.
![]()
Menanti doa-doa orang baik