

"Kalau perut diikat begini, laparnya sedikit berkurang"

Kalimat itu diucapkan lirih oleh Abah Madhalim sambil mengencangkan seutas tali plastik di pinggangnya. Bukan karena sakit punggung. Bukan pula karena sedang bekerja berat. Ia mengikat perutnya untuk melawan rasa lapar.

Hari itu, sejak pagi hingga matahari hampir tenggelam, tak satu ikat pun kangkung yang dipikulnya laku terjual. Perutnya kosong, tenaga semakin habis, tetapi ia tetap memaksakan diri berjalan dari kampung ke kampung demi berharap ada pembeli.

Saat kami menemuinya, Abah hanya tersenyum tipis. Di usianya yang sudah senja, ia masih memikul beban yang bahkan sulit ditanggung orang yang lebih muda. Yang lebih menyayat hati, ketika benar-benar tak sanggup menahan lapar, Abah terpaksa memakan kangkung mentah yang seharusnya dijual untuk mendapatkan uang. Itulah satu-satunya makanan yang bisa mengganjal perutnya hari itu. “abah kelaparan, dari pagi belum makan” lirih abah

Di rumah, cobaan lain telah menunggu, istrinya tengah sakit dan membutuhkan pengobatan. Namun bagi Abah, membawa sang istri ke rumah sakit terasa seperti mimpi yang terlalu jauh. "Untuk makan saja saya kesulitan. Kalau istri sakit, paling hanya bisa beli obat di warung," ucapnya pelan.
Setiap hari Abah harus memilih mencari nafkah atau menemani istrinya yang sedang sakit. Apa pun pilihannya, hati kecilnya selalu dipenuhi rasa khawatir. Namun ujian hidup mereka belum berhenti. Rumah sederhana yang selama ini menjadi tempat berlindung ternyata bukan milik mereka. Pemiliknya berencana mengambil kembali rumah tersebut, sehingga Abah dan istrinya harus segera pergi.

Mereka tidak memiliki tanah. Tidak memiliki tabungan. Tidak memiliki rumah lain untuk dituju. Artinya, dalam waktu dekat, pasangan lansia ini bisa kehilangan satu-satunya tempat berteduh yang mereka miliki. Bayangkan… setelah seharian menahan lapar, memikul dagangan puluhan kilometer, dan pulang untuk merawat istri yang sakit, Abah masih harus dihantui pertanyaan yang menyakitkan “Besok kami harus tinggal di mana?” Sahabat baik, Abah Madhalim tidak meminta hidup mewah. Ia hanya ingin bisa makan dengan layak, mengobatkan istrinya, dan memiliki tempat sederhana untuk berteduh di masa tuanya. Hari ini, harapan itu bisa hadir melalui kepedulian kita.
Mari ulurkan tangan untuk membantu Abah Madhalim dan istrinya. Berapa pun donasi yang diberikan dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, biaya pengobatan, serta memberikan kesempatan bagi mereka untuk memiliki tempat tinggal yang lebih aman dan layak. Jangan biarkan Abah terus mengikat perutnya karena lapar, lalu kehilangan atap tempat ia dan istrinya berlindung.