
Pak Suhada(49th), seorang difabel sejak kecil, tidak pernah membiarkan keterbatasan fisiknya menjadi penghalang untuk menghidupi keluarganya.
Di tengah jerih payah dan hinaan, ia memanfaatkan keahliannya sebagai pengrajin rotan, membuat tampah dan bakul untuk dijual, sementara ia tetap berkeliling pasar dan dari kampung ke kampung demi menjual hasil kerajinan tangan mereka. Hidup dengan serba kekurangan tak pernah membuat mereka menyerah, meski makan dengan garam dan pisang rebus menjadi makanan sehari-hari.
Sejak usia lima tahun, hidup Pak Suhada berubah total akibat penyakit panas dan kejang yang membuatnya kehilangan kemampuan fisik untuk berjalan seperti anak-anak lain. Namun, itu tidak membuatnya berhenti bermimpi. Bertahun-tahun kemudian, dengan segala keterbatasan, ia memilih untuk berjuang dengan keterampilan tangannya, menjadi seorang pengrajin rotan. Meski ia hanya mendapatkan Rp 20.000 hingga Rp 30.000 sehari dari hasil menjual bakul dan tampah dengan harga Rp 5.000 per buah, ia tak pernah putus asa.
Pak Suhada tinggal di rumah sederhana bersama istri (siti sapaah 42th) dan seorang anak yang kini duduk di bangku kelas 1 SD. Kondisi rumah mereka tak lebih dari sederhana, bahkan untuk makan sehari-hari, mereka sering hanya makan garam atau pisang rebus yang diambil dari kebun kecil di belakang rumah. Meski begitu, keluarga ini tetap bersyukur. Bantuan dari pemerintah yang mereka terima setidaknya membuat rumah mereka sedikit lebih layak untuk ditinggali.
Pak Suhada berjuang demi satu hal untuk masa depan anaknya. Ia ingin agar anaknya bisa mendapatkan pendidikan yang layak, mengubah nasib yang selama ini mereka jalani. Dengan segala keterbatasan, setiap tampah dan bakul yang dibuat dengan penuh kesabaran dan ketekunan adalah wujud dari impian besar seorang ayah agar anaknya memiliki kesempatan lebih baik.
Namun, perjuangan itu kini semakin berat. Penghasilan yang sangat minim tak cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, apalagi biaya pendidikan anaknya. Kondisi ekonomi yang serba kekurangan membuat mereka sering kali harus menahan lapar. Selain itu, hinaan dan tuduhan dari orang-orang sekitar yang menyebut hasil kerajinan tangan Pak Suhada buruk, bahkan ada yang menuduhnya mencuri bambu, sampai ada yang tidak mau membayar jualan Pak Suhada, dan semakin menambah beban hidup mereka.
Pak Suhada berharap bisa memperbaiki kualitas kerajinannya, meningkatkan penjualan, dan memberi kehidupan yang lebih baik untuk keluarganya. Harapannya sederhana, ia ingin anaknya tumbuh dengan pendidikan yang layak, dan hidup mereka bisa lebih sejahtera.