
Setiap hari, di sudut jalan yang ramai, ada sosok renta yang berjalan pelan sambil menyeret karung berisi botol bekas. Langkahnya tertatih, tubuhnya lemah, namun ia tetap memaksa berjalan sejauh 15 kilometer demi mendapatkan uang receh untuk bertahan hidup.

Namanya Kakek Asnawi, usia 79 tahun.
Banyak orang menutup hidung saat beliau lewat. Sebagian menjauh. Anak-anak ketakutan melihat wajahnya. Bukan karena beliau kotor, bukan pula karena tak menjaga diri.
Namun karena wajah Kakek Asnawi telah digerogoti kanker kulit ganas.
Penyakit itu merenggut mata kiri dan hidungnya. Menyisakan luka menganga yang terus mengeluarkan bau menyengat dan rasa perih luar biasa. Setiap kali berjalan memulung, debu jalanan masuk ke luka terbuka di wajahnya.

“Kalau gak pakai masker banyak yang takut... tapi kalau pakai masker napas kakek sesak. Kakek sedih... kakek juga gak mau muka hancur kayak gini...” ucap beliau lirih.
Bayangkan, di usia senja saat banyak orang menikmati masa tua bersama keluarga, Kakek Asnawi justru harus berjuang sendirian menahan sakit, lapar, dan malu.
Hasil memulung selama 3 hari, kadang hanya laku 10 ribu rupiah. Uang itu bahkan tak cukup membeli makan layak, apalagi biaya berobat.
“Sebenarnya kakek sudah gak kuat, Nak... tapi kalau gak memulung, kakek gak bisa beli obat...” katanya sambil menahan air mata.

Sebagai sesama manusia, hati siapa yang tak hancur melihat perjuangan beliau?
Kakek Asnawi tidak meminta dikasihani. Ia hanya ingin sembuh. Ia hanya ingin sisa hidupnya tidak lagi dihabiskan untuk menahan rasa sakit dan tatapan sinis orang-orang.
#OrangBaik, mari jadi alasan Kakek Asnawi bisa berobat dan kembali tersenyum
Bantuanmu akan sangat berarti untuk:
Salurkan bantuan terbaikmu sekarang:
1. Klik tombol DONASI SEKARANG
2. Masukkan nominal terbaikmu
3. Pilih metode pembayaran favoritmu
Sekecil apa pun bantuanmu, sangat berarti bagi Kakek Asnawi.
Terima kasih, #OrangBaik.