
Di ujung usia yang mencapai 78 tahun , Mbah Sarno harus menjalani kehidupan yang memilukan.
Hidup sebatang kara di sebuah gubuk dan menjadi tukang sol agar bisa terus menyambung hidup.
Dalam raut wajahnya yang sangat kelelahan, terlihat betapa beratnya beban yang ia pikul.
Kerutan-kerutan di kulitnya bukanlah tanda usia, melainkan hasil dari perjuangan tak kenal lelah.
Terik matahari dan debu jalanan telah menjadi sahabat setia Mbah Sarno selama bertahun-tahun saat ia berkeliling dari desa ke desa.
Kadang-kadang, dia beristirahat sejenak di pinggir jalan, mencoba menghirup udara segar, padahal nafasnya sudah tidak lagi meyakinkan dulu.
Setiap hari, dia keluar dari rumah jam 7 pagi dan seringkali harus menunda waktu makan hanya demi menjalankannya. Terlihat dari tangan yang sesekali memegang perut, sepertinya dia seringkali menahan rasa lapar dan haus.
Kemalangan lain adalah bahwa dia seringkali harus menahan rasa lapar, karena dari rumahnya dia tidak membawa uang. Dia hanya bisa makan jika ada pelanggan yang menggunakan jasa solnya.
Selama lebih dari 20 tahun, Mbah Sarno telah menjadi tukang sol berkeliling.
Tarif jasa solnya hanya sekitar 15 ribu rupiah , namun sayangnya dia seringkali tidak mendapat pelanggan, yang menganggap tarifnya terlalu mahal.
Situasinya sangat menyedihkan, ketika dia seringkali hanya makan garam hampir setiap hari dan jika persediaan beras habis, dia akan pergi meminjam beras di warung dan dibayar setelah punya uang.
Rumahnya pun jauh dari kata layak, bahkan dinding papannya sudah banyak yang dimakan rayap.
Rumah ini berdiri di atas tanah irigasi, hal ini membuat rumahnya rentan runtuh setiap saat.
Mirisnya lagi Di malam hari, Mbah Sarno hanya bisa mengandalkan cahaya lilin, karena dia tidak mampu membayar listrik .
Sahabat mari kita bantu mbah sarno untuk hidup lebih layak di penghujung usianya agar hidup lebih layak dan tak alami kelaparan.