
Namanya Abah Səjum, usianya sudah 86 tahun. Setiap hari Abah masih membuat nampah dari anyaman dengan tangannya sendiri.
Setelah anyaman yang dibuat sudah terkumpul banyak, Abah kemudian membawa keliling kampung untuk dijual.
Tapi ternyata tidak mudah untuk menjualnya. Dagangan Abah belum tentu laku dalam sehari. Bahkan terkadang Abah harus berhari-hari berkeliling sampai semua nampahnya habis.
Dalam sehari, terkadang hanya satu nampah yang terjual dengan harga Rp20 ribu. Setelah semua dagangan habis, Abah biasanya berhenti berjualan sekitar seminggu untuk kembali membuat nampah. Setelah terkumpul, Abah kembali menjualnya.
Di usianya yang sudah 86 tahun, Abah sebenarnya sudah tidak seharusnya bekerja sekeras ini. Tapi Abah tetap berusaha, karena dari hasil itulah Abah bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Abah tinggal sendirian di rumah yang kondisinya sangat memprihatinkan.

Rumahnya sudah miring dan di beberapa bagian harus diganjal menggunakan bambu agar tidak roboh.
Istri Abah sudah lama meninggal dunia. Sementara anak-anaknya sudah berkeluarga dan kondisi ekonominya juga tidak jauh berbeda, sama-sama serba kekurangan.
Meski hidup dalam keterbatasan, Abah tetap berusaha membuat nampah dan menjualnya.
Di usia senjanya, Abah hanya ingin terus bisa bertahan dan memenuhi kebutuhan hidupnya dari hasil kerja tangannya sendiri.
Semoga masih ada orang-orang baik yang mau membantu Abah, agar di usia 86 tahun ini Abah tidak harus terus berjuang sendirian.