
“Ibuuuu… sakit bu, aku gak tahan, pengen cepat sembuh bu..” ucap Saiful merintih kesakitan.

Di usianya yang baru 11 tahun, Saepulloh—bocah kelas 4 SD ini—harus menanggung beban hidup yang teramat berat. Di saat anak-anak seusianya asyik bermain, Saepulloh harus berjuang melawan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya demi bisa terus bersekolah. ππ
Perjuangan pahit ini bermula sejak ia baru berusia 9 bulan. Sebuah benjolan kecil muncul di bahu kanan atasnya. Awalnya dikira bisul biasa, namun perlahan benjolan itu terus membesar dan menyebar ke beberapa bagian tubuhnya yang lain. Rasa nyeri kerap menyiksa tubuh mungilnya tanpa kompromi.
Namun, rasa sakit itu tak sedikit pun melunturkan semangatnya untuk mengejar cita-cita. Setiap hari, selepas bel sekolah berbunyi, Saepulloh tak bisa langsung beristirahat. Ia melangkah menyusuri jalanan hingga puluhan kilometer, menjajakan dagangan demi biaya sekolah dan membantu sang ibu tercinta. Ibu yang selama ini merawatnya sendirian dengan penuh kasih sayang, meski dalam segala keterbatasan. π

Di balik benjolan pundak yang kian membesar, Eful (11 thn) tak menyerah. Sepulang sekolah, ia rela berjalan jauh menjajakan es jadul demi mengumpulkan biaya operasinya sendiri.
Dari pagi sampai petang, hasil jualannya cuma 30–50 ribu rupiah. Angka yang jauh dari cukup untuk biaya pengobatan medis.
Saat rasa sakit luar biasa itu kumat, Eful cuma bisa menangis dan merintih, "Aduhh… sakit bu, sakit banget bu…"
Keterbatasan ekonomi membuat pengobatannya terhenti. Saat ini, Eful hanya jalani perawatan seadanya sambil terus berjuang mencari nafkah demi bisa sembuh.

Orang Baik, jangan biarkan mimpi dan sekolah Saepulloh terputus oleh penyakitnya. Ulurkan tanganmu untuk menjadi jembatan kesembuhan bagi Saepulloh.
Mari bersama kita bantu Saepulloh mendapatkan pengobatan medis yang intensif dan layak, agar ia bisa bebas dari rasa sakit, kembali bersekolah, dan menggapai cita-citanya! β¨π