

"Bau... jijik... anak kutukan!"
Kalimat itu terus menghantui hidup Riris (18 tahun). Padahal, Riris tak pernah memilih terlahir dengan penyakit yang membuat seluruh tubuhnya penuh luka.

Sejak usia 5 bulan, kulit Riris mengelupas tanpa henti. Tubuhnya dipenuhi luka terbuka yang mengeluarkan darah dan nanah setiap hari. Bahkan hingga hari ini, dokter menyatakan penyakit tumor kulit yang dideritanya harus terus diobati seumur hidup.

Bayangkan...Saat anak-anak lain berlari, bermain, dan bercita-cita tinggi, Riris justru tumbuh bersama rasa sakit yang tak pernah berhenti. Setiap malam tubuhnya terasa perih seperti terbakar. Setiap pagi luka-lukanya kembali basah oleh darah dan nanah. Bahkan bau menyengat dari lukanya membuat banyak orang menjauh.

Tak sedikit yang menghina, mencibir, bahkan menganggapnya sebagai pembawa kutukan. Hinaan demi hinaan membuat mental Riris runtuh. Riris memilih mengubur impiannya dan berhenti sekolah setelah lulus SMP.

Namun yang paling menyayat hati bukanlah penyakit itu. Melainkan perjuangan ayahnya, pak Sulistiyo rela melakukan apa saja agar putrinya tetap bisa berobat. Motor tua yang sering mogok menjadi satu-satunya kendaraan mereka menuju rumah sakit. Saat tak ada uang membeli bensin, beliau mendorong motornya berkilometer jauhnya. Bahkan KTP miliknya pernah dijaminkan hanya agar sang anak bisa menjalani pengobatan. Dengan mata berkaca-kaca beliau berkata,"Bagaimanapun cara dan kondisinya, saya ingin anak saya bisa berobat dan sembuh."

Namun kini kondisi Riris semakin mengkhawatirkan. Lukanya semakin luas dan dalam. Infeksi mengancam setiap saat. Rasa sakit yang ditahannya semakin sulit digambarkan dengan kata-kata. Pengobatan tidak boleh berhenti. Karena jika terlambat, infeksi bisa menyebar dan membahayakan nyawanya.
Sahabat baik, Hari ini Riris masih bertahan. Masih berusaha tersenyum meski tubuhnya dipenuhi luka. Masih berharap suatu hari bisa hidup tanpa rasa sakit dan tanpa hinaan. Harapan itu kini ada di tangan kita. Mari bantu Riris mendapatkan pengobatan yang ia butuhkan.
Berapapun donasi yang diberikan akan membantu biaya pengobatan, kontrol rutin, transportasi menuju rumah sakit, serta kebutuhan perawatan luka yang harus dijalani setiap hari.