Cobaan datang ketika Raifa baru berusia 3 bulan. Demam tinggi membuat tubuhnya terus kejang hingga berkali-kali. Dalam kepanikan, sang ibu bergegas membawa putrinya ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan menjadi mimpi buruk yang tak pernah ia bayangkan.
Dokter menemukan adanya hidrosefalus, yaitu penumpukan cairan di dalam otak yang menyebabkan tekanan di kepala terus meningkat. Raifa harus segera menjalani operasi pemasangan VP Shunt, selang yang berfungsi mengalirkan cairan dari otak agar tidak terus menekan jaringan otak dan mengancam nyawanya.Namun cobaan belum berhenti. Di saat Raifa membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya, sang ayah justru pergi meninggalkan keluarga dan hingga hari ini tak pernah kembali ataupun bertanggung jawab. Sejak saat itu, Bu Sinta harus menjadi ibu sekaligus ayah bagi Raifa dan saudaranya.

Yang membuat perjuangan Raifa semakin berat, ternyata hidrosefalus bukan satu-satunya penyakit yang harus ia hadapi. Dokter juga menemukan Large Secundum ASD, yaitu jantung berlubang besar. Lubang pada jantung Raifa membuat darah terus mengalir kembali ke paru-paru sehingga jantungnya harus bekerja jauh lebih keras dibandingkan anak seusianya.Raifa mudah lelah saat menyusu, berat badannya sulit naik, dan jantungnya mulai menunjukkan tanda-tanda pembesaran karena terus bekerja tanpa henti. Dokter sebenarnya telah merencanakan tindakan untuk menutup lubang di jantung Raifa.

Namun tindakan tersebut baru dapat dilakukan ketika berat badannya mencapai lebih dari 10 kilogram. Sementara saat ini, berat badan Raifa masih jauh dari target sehingga ia harus terus mendapatkan obat, nutrisi, dan pemantauan ketat dari dokter.Tak hanya itu, Raifa juga lahir dengan palatoskisis atau langit-langit mulut sumbing yang membuatnya kesulitan menyusu sejak bayi, serta katarak kongenital, yaitu katarak yang sudah ada sejak lahir dan berisiko mengganggu penglihatannya apabila tidak ditangani.Berbagai kelainan bawaan ini membuat Raifa harus menjalani pengobatan dengan banyak dokter spesialis sekaligus. Setiap kontrol menjadi perjuangan panjang yang membutuhkan biaya transportasi, obat-obatan, nutrisi, dan kebutuhan pendampingan yang tidak sedikit.

Setiap hari Bu Sinta berjualan tisu di pinggir jalan. Karena tidak ada yang menjaga Raifa, ia terpaksa menggendong atau membawa putrinya ikut berjualan dari satu lampu merah ke lampu merah lainnya.Padahal dokter menyarankan agar Raifa tidak terlalu sering berada di tempat ramai karena kondisi tubuhnya sangat rentan terhadap infeksi. Namun jika Bu Sinta tidak bekerja, keluarganya tidak memiliki uang untuk makan, menebus sebagian obat, ataupun membayar ongkos kontrol ke rumah sakit.

Meski lelah, Bu Sinta tidak pernah menyerah. Ia percaya selama masih ada harapan, ia akan terus berjuang demi melihat putrinya tumbuh dan memiliki masa depan.#OrangBaik, Raifa masih memiliki kesempatan untuk tumbuh, bermain, dan menikmati masa kecilnya. Namun ia harus melalui perjuangan panjang yang tidak mampu ditanggung ibunya seorang diri.Bantuan yang kita berikan dapat membantu memenuhi kebutuhan pengobatan, kontrol rutin, nutrisi, transportasi berobat, serta pendampingan selama Raifa menjalani perawatan. Mari kita ulurkan tangan dan menunjukkan kepedulian padanya
![]()
Menanti doa-doa orang baik