

Sejak kecil, dunia Pak Ishak (43 tahun) sudah dipenuhi kegelapan.
Saat usianya baru 5 tahun, demam tinggi yang berkepanjangan merenggut seluruh penglihatannya. Sejak itu, Pak Ishak tak pernah lagi melihat indahnya dunia.

Kini, dengan segala keterbatasan, Pak Ishak tetap memilih untuk berjuang. Setiap hari, ia berjalan dari kampung ke kampung, berkeliling untuk menjual sapu lidi.
Tanpa bisa melihat arah, hanya mengandalkan hafalan jalan dan perasaan. Tak jarang, tubuh renta itu terjatuh di jalanan berbatu, tersandung, bahkan terjatuh ke dalam selokan.

Kadang, anak sulungnya yang baru berusia 4 tahun ikut menemani. Dengan tangan mungilnya, sang anak menuntun ayahnya menembus terik dan hujan, berkeliling kampung demi bisa makan hari itu.

Lebih menyayat hati, banyak pembeli yang memanfaatkan keadaannya. Ada yang membayar lebih sedikit dari harga, bahkan ada yang tidak membayar sama sekali. Namun, Pak Ishak hanya bisa terdiam Ia menahan perih itu, demi membawa pulang sedikit rezeki untuk keluarganya.

Pak Ishak tinggal bersama istri dan dua anak kecilnya, dalam sebuah rumah sederhana berdinding geribik, beratapkan seadanya.
Rumah itu memang milik mereka, tapi tanah tempat rumah itu berdiri hanyalah menumpang di lahan milik orang lain.
Pak Ishak bermimpi bisa memindahkan rumah nya ke tanah sendiri tapi apalah daya bisa makan sehari hari pun alhamdulillah dan pak Ishak mempunyai harapan membuka usaha kecil di rumah agar bisa tetap menafkahi keluarga tanpa harus keliling berjualan.
![]()
Menanti doa-doa orang baik