

Kaki Cacat Sering Membuatnya Terjatuh, Mbah Sutirah Tetap Berjualan Demi Bertahan Hidup

“Tiboh, Le... iki sikile Mbah loro. Seng wingi wae horong mari, iki malah tiboh meneh.” Terlihat luka di kaki Mbah yang baru mulai mengering. Luka akibat terjatuh sebelumnya belum benar-benar sembuh, namun Mbah kembali berjalan mencari pembeli.

Namanya Mbah Sutirah, usianya 68 tahun. Di usia senja, Mbah masih harus berkeliling kampung menjajakan petisan buah seharga Rp5.000 per bungkus untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Mbah memiliki keterbatasan pada kaki sebelah kiri. Kondisi itu membuatnya kesulitan berjalan dan sering kehilangan keseimbangan hingga terjatuh. Saat kami bertemu, Mbah baru saja terjatuh di pinggir jalan. Petisan yang dibawanya berserakan, dan Mbah terlihat memungutnya satu per satu meski kakinya sedang sakit.

Yang membuat hati kami semakin tersentuh, ketika kami memberikan uang untuk mengganti dagangan Mbah yang rusak akibat terjatuh, Mbah justru berkata, “Suwon yo, Le. Alhamdulillah iki rejekine keno dinggo sangu ngaji.” Di tengah keterbatasannya, Mbah masih ingin menyisihkan rezekinya untuk beribadah.

Mbah tinggal di rumah sederhana hasil gotong royong warga. Namun kondisi rumah tersebut masih memprihatinkan. Dapur Mbah bocor ketika hujan, sementara beberapa bagian dindingnya sudah berlubang.

Mbah sebenarnya ingin memperbaiki dapurnya sedikit demi sedikit dari hasil berjualan. Namun dengan penghasilan dari petisan yang hanya Rp5.000 per bungkus, keinginan itu tentu tidak mudah diwujudkan.

Di usia 68 tahun, Mbah seharusnya bisa beristirahat dengan tenang. Bukan justru terus berjalan dengan kaki yang sakit dan mempertaruhkan dirinya kembali terjatuh demi mendapatkan penghasilan. Karena itu, kami ingin mengajak #OrangBaik membantu Mbah Sutirah. Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk membantu kebutuhan hidup Mbah serta memperbaiki dapur dan bagian rumahnya yang rusak, agar Mbah dapat tinggal dengan lebih aman dan layak.