

“waktu itu mbah pernah lai jualan terus dijambret..sejak saat itu mbah gak pernah pake sandal lagi nak. mbah gak bisa lari waktu dikejar-kejar, bahkan sampai jatuh sampe jarinya berdarah.” lirih Mbah Ngarini.

Di usia 66 tahun, Mbah Ngarini masih harus berjuang seorang diri. Sejak suaminya meninggal 2 tahun lalu, Mbah hidup tanpa anak dan hidup dari jualan sayur.
Setiap hari, jam 4 pagi Mbah sudah pergi ke pasar. Sehari, Mbah bisa berjalan hingga 10 KM. Tapi yang bikin hati makin sedih, Mbah selalu berjualan tanpa memakai sandal.

Bukan karena tidak punya. Mbah pernah dijambret saat berjualan. Sejak itu, Mbah takut memakai sandal karena merasa tidak akan bisa berlari kalau kejadian serupa terulang lagi. Jari-jari kaki Mbah pun sampai luka dan berdarah karena setiap hari berjalan tanpa alas kaki.
Dari berjualan sayur, Mbah hanya mendapat sekitar Rp10–20 ribu. Itu pun kalau dagangannya habis. Kalau tidak, sayuran bisa busuk dan Mbah kehilangan penghasilan hari itu.

Padahal tangan Mbah selalu gemetar dan tubuhnya juga sering sakit-sakitan. Tak jarang Mbah harus libur berjualan karena tidak kuat. Keuntungan Mbah hanya Rp500 per ikat sayuran. Kalau tidak berjualan, Mbah sering mengandalkan pemberian orang untuk makan.

Yuk, kita bantu Mbah Ngarini. Rp10.000, Rp20.000, atau berapa pun yang kita mampu, bisa membantu memenuhi kebutuhan makan Mbah, kebutuhan saat sakit, dan perlahan memperbaiki tempat tinggalnya. Mari kita ringankan sedikit perjalanan panjang Mbah Ngarini.