

"Orang-orang mungkin takut melihat luka di kepala Mbah Jimin. Tapi, pernahkah ada yang bertanya seberapa besar rasa sakit yang beliau sembunyikan selama ini?"

Di usia 79 tahun, saat kebanyakan orang menikmati masa tua bersama keluarga, Mbah Jimin justru masih memikul sapu keliling demi bertahan hidup.
Di kepalanya tumbuh benjolan besar yang diduga tumor. Luka itu semakin hari semakin mengkhawatirkan, tetapi hingga hari ini Mbah belum pernah sekalipun memeriksakannya ke rumah sakit. Bukan karena tidak ingin sembuh, melainkan karena beliau tak memiliki biaya bahkan hanya untuk berangkat berobat.

Setiap pagi, Mbah Jimin berjalan membawa sapu-sapu milik orang lain untuk dijual berkeliling kampung. Namun, dagangannya sangat jarang laku. Entah karena orang belum membutuhkan sapu, atau mungkin karena mereka takut, bahkan jijik, melihat luka besar di kepala Mbah.
Padahal, dari setiap sapu yang berhasil terjual, Mbah hanya memperoleh keuntungan Rp3.000. Sisanya harus disetorkan kepada pemilik sapu. Tak jarang, seharian penuh berkeliling, tak ada satu pun sapu yang laku. Artinya, Mbah pulang tanpa membawa uang sepeser pun.

Rasa sakit di kepalanya sering membuat langkah Mbah terhenti. Beliau harus duduk di pinggir jalan untuk menahan nyeri. Bahkan, beberapa kali Mbah memilih tidur di depan ruko orang karena tubuhnya sudah terlalu lelah untuk terus berjalan, sementara dagangannya masih utuh.
Perjuangan itu pun berakhir di sebuah rumah yang nyaris roboh. Mbah Jimin tinggal seorang diri di rumah yang sudah sangat tidak layak huni. Dindingnya berlubang, atapnya bocor, dan kasur yang menjadi tempat beliau beristirahat telah lapuk dimakan usia. Tidak ada kenyamanan yang bisa menghapus lelah setelah seharian berkeliling.

Yang paling membuat hati terasa sesak adalah ketika kami melihat tempat makan Mbah tak ada nasi, tak ada sayur, tak ada lauk dan tempat makan itu kosong.

Sulit membayangkan bagaimana seorang lansia berusia 79 tahun yang sedang menahan rasa sakit akibat benjolan di kepalanya masih harus berjalan berkilo-kilometer setiap hari, tetapi tetap tidak memiliki makanan untuk mengganjal perutnya.

Hari ini, Mbah Jimin tidak hanya membutuhkan uluran tangan untuk bertahan hidup, tetapi juga kesempatan untuk memeriksakan benjolan di kepalanya, mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak, serta bisa menikmati masa tua tanpa harus terus memikul beban yang seharusnya sudah lama beliau lepaskan. Mari jadi harapan bagi Mbah Jimin. Berapa pun bantuan yang Anda berikan dapat menjadi jalan agar beliau bisa berobat, makan dengan layak, dan menjalani sisa hidupnya dengan lebih tenang.
![]()
Menanti doa-doa orang baik