
Abah terus menjual untuk membeli makaan dan kebutuhan lainnya

Setiap hari Abah masih menjual tebu telur keliling seorang diri.
Sebenarnya anak Abah sudah melarangnya untuk berjualan karena melihat kondisi Abah yang sudah semakin tua. Tapi Abah tetap punya kemauan sendiri untuk terus bekerja. Abah sudah terbiasa bekerja dan tidak mau hanya diam di rumah.
Yang membuat hati miris, setiap berjualan Abah tidak memakai alas kaki. Jari-jari kaki Abah sudah bengkok sehingga tidak bisa memakai sandal ataupun sepatu. Untuk berjalan pun Abah sering harus memegangi lututnya karena mungkin terasa nyeri.

Abah hanya tinggal berdua dengan anaknya di rumah yang kondisinya sudah sangat reyot. Hampir setiap sudut dinding harus diganjal agar tidak roboh. Lantainya pun hanya gribik yang sudah rapuh.
Penghasilan dari penjualan tebu telur tidak seberapa. Hasilnya pun belum cukup untuk memenuhi kebutuhan Abah dan anaknya sehari-hari.
Di usia 86 tahun, Abah sebenarnya sudah layak banyak beristirahat. Tapi Abah memilih tetap berjalan keliling sendirian, membawa dagangan milik anaknya, demi membantu memenuhi kebutuhan makan mereka.
Abah tidak ingin hanya bergantung pada anak. Selama masih mampu berjalan, Abah akan terus berusaha.
![]()
Menanti doa-doa orang baik