
Aatifa awalnya didiagnosis jantung bocor dan menjalani operasi pertama. Namun, terjadi komplikasi yang membuat bekas lukanya bocor hingga terjadi pendarahan. Ia sempat mengalami demam tinggi, kejang, dan koma selama 2 minggu.
Rasa terpukul di hati Pak Ongki semakin mendalam ketika dokter menjelaskan bahwa anaknya juga mengalami penyempitan jalur pernapasan, sehingga dokter harus membolongi lehernya untuk memasang alat trakeostomi sebagai alat bantu pernapasannya.
“Kata dokter, satu-satunya cara buat selamatkan nyawa anakku hanya lewat operasi tapi harus dirujuk ke Jakarta. Biayanya sampai 100 juta. Saya cuma pekerja serabutan, upahnya pas-pasan. Sudah jual barang-barang di rumah, tapi tetap gak cukup buat berobat...” ucap Pak Ongki.
Namun, Pak Ongki hanya seorang buruh serabutan yang telah menjual semua barang berharga, termasuk TV kesayangan Aatifa, demi biaya pengobatan. Kini mereka harus merujuk Aatifa ke Jakarta, tetapi sudah kehabisan biaya untuk pengobatan sebelumnya.
#OrangBaik, tanpa pengobatan segera, Aatifa bisa kehilangan semua peluang untuk pulih. Saraf otaknya yang kekurangan oksigen bisa rusak permanen, memupus harapan keluarganya untuk melihat senyum putri kecilnya lagi.
![]()
Menanti doa-doa orang baik