
Sejak umur 5 tahun Alit sudah kehilangan ayahnya akibat penyakit. Setahun yang lalu ia kembali diuji dengan kehilangan kaki kanannya dan putus sekolah…
Usianya saat bangku ini sudah 15 tahun, seharusnya Alit masih duduk di SMA seperti teman-teman sebayanya. Namun, ujian yang terjadi satu tahun lalu benar-benar merubah hidup Alit. Dia tak lagi sekolah dan harus belajar hidup hanya dengan satu kaki.
“Waktu itu aku lagi dibonceng teman, gak tau gimana detailnya, aku cuma ingat udah tiduran di jalan. Kaki kanan aku kerasa sakit sekali dan gak bisa digerakkan…” lirih Alit.
Kecelakaan maut itu membuat tulang di kaki kanan Alit remuk, bahkan sampai menembus keluar! Ibu Alit pun merelakan rumah dan uang tabungannya demi menyelamatkan buah hatinya.
Miris, segala ikhtiar yang dilakukan ibu tak membuahkan hasil. Meski sudah mendapat penanganan, kaki Alit tetap menghitam dan membusuk. Sampai akhirnya, dokter tak punya pilihan lain selain mengamputasi kaki Alit.
“Pertama kali buka mata setelah operasi dan sadar aku udah gak punya kaki jadi momen tersedih dalam hidup aku, kak. Aku langsung meluk ibu sambil menangis. Aku takut banget merepotkan ibu hidup hanya dengan satu kaki,” air mata Alit kembali menetes.
Kadang Alit masih menggambarkan bagaimana hidupnya jika kecelakaan itu tak terjadi. Tapi ia tak mau terpuruk dalam kesedihan dan terus mengharapkan kakinya kembali. Alit sadar cuma dia yang bisa membantu ibu mencari nafkah, menggantikan sosok ayah yang tak banyak diingat Alit.
Alit dan ibu kini tinggal di gubuk kayu yang jauh dari kota. Alit pun tidak sekolah karena ibunya tidak mampu membayar uang bulanannya. Ibu Alit cuma petani serabutan yang baru bekerja jika ada panggilan dari juragan saja.
Untuk itu, Alit mencoba peruntungan dengan jualan es kacang merah keliling. Es kacangnya Alit dapat dari distributor dan ia harus menyetor setiap harinya sebanyak Rp200.000. Sisanya untuk Alit berikan ke ibu seringkali gak lebih dari 50 rb saja!
Hati kami meringis ketika pertama kali melihat Alit mendorong gerobak esnya dengan satu kaki. Di jalan yang rata saja dia tampak kesulitan, bagaimana jika dia bertemu dengan jalanan yang naik turun?
Dalam sehari Alit bisa menempuh jarak hampir 10 km. Alit beberapa kali berhenti di pinggir jalan sambil memijat kakinya jika terasa sakit sekali. Tak lupa ia juga berdoa semoga ada orang yang membeli esnya sambil mengumpulkan tenaga untuk jalan lagi.
“Waktu kehilangan kaki, Alit makin disadarkan kalau di jalanan ternyata masih banyak yang hidupnya lebih sulit. Makanya kadang Alit usahakan tetap berbagi walau penghasilan hari itu masih sedikit,”ucap Alit.
Kak, harapan Alit sekarang dia pengen banget punya kaki palsu dan bisa melanjutkan sekolah agar bisa membanggakan ibunya.