

Di pinggir jalan, seorang kakek berjalan sempoyongan sambil memikul atap anyaman daun yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya. Beberapa kali beliau hampir terserempet motor karena kesulitan menjaga keseimbangan. Namanya Abah Sadi.

Di usia yang seharusnya dihabiskan untuk beristirahat bersama keluarga, Abah masih harus berkeliling menjajakan atap anyaman daun tradisional buatannya sendiri.
Sayangnya, zaman sudah berubah. Hampir tak ada lagi yang mencari atap anyaman seperti yang Abah jual.

Saat ditanya apakah dagangannya laku, Abah hanya tersenyum getir.
"Sudah 5 hari belum ada yang beli, Nak. Kakek gak punya modal buat usaha lain."

Setiap hari, Abah tetap memikul tumpukan atap yang berat, berjalan berkilo-kilometer meski bahunya gemetar menahan beban. Kakinya lecet karena terlalu sering dipaksa berjalan jauh.
Yang lebih memilukan, karena jualannya tak kunjung laku, Abah dan istrinya sering harus menahan lapar. Bahkan sepotong roti kecil pun dibagi berdua agar mereka tetap bisa makan hari itu.

InsyaAllah, bantuan yang terkumpul akan digunakan untuk:
Mari salurkan sedekah terbaikmu melalui:
1. Klik tombol “DONASI SEKARANG”
2. Masukkan nominal donasi
3. Pilih metode pembayaran transfer Bank
4. Dapatkan laporan melalui WhatsApp paling lambat 2x24 jam setelah berdonasi.
Terima Kasih Orang Baik!