

Di usia yang sudah tidak muda lagi, Abah Didi (66 tahun) masih harus berjalan dari kampung ke kampung menjajakan kerupuk. Dengan langkah pelan dan napas yang sering tersengal, Abah tetap berkeliling membawa dagangannya. Abah bukan tidak ingin beristirahat. Namun keadaan memaksanya tetap berjuang.

Abah memiliki riwayat penyakit asma yang kerap kambuh. Bahkan saat sedang berjualan, Abah pernah jatuh karena sesak napas yang tiba-tiba menyerang. Tapi setelah itu, Abah tetap berusaha bangkit kembali. Bagi Abah, berhenti berarti tidak ada yang bisa dibawa pulang untuk keluarganya.

Setiap hari Abah memikul kerupuk yang ia titip jual dari orang lain. Jika kerupuk itu tidak habis terjual, Abah harus menggantinya kepada pemiliknya. Tak jarang, kerupuk yang tidak laku terpaksa Abah buang, sementara ia tetap harus menanggung kerugiannya.

Namun yang paling membuat Abah tidak bisa berhenti berjuang adalah istri tercintanya yang sedang sakit diabetes yang mengancam kerusakan ginjal dan jantung. Sang istri kini hanya bisa terbaring lemah dan membutuhkan perawatan. Abah adalah satu-satunya harapan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Dengan kondisi kesehatan yang terus menurun, Abah tetap melangkah menyusuri jalan demi jalan, hanya agar bisa membawa istrinya berobat, bahkan abah tak memikirkan kesehatannya sendiri.
Sahabat baik, di usia senja seharusnya Abah bisa beristirahat dan menikmati masa tua dengan tenang. Namun kenyataannya, Abah masih harus berjuang melawan sakitnya sendiri demi merawat sang istri.
Sedikit bantuan dari kita bisa menjadi harapan besar bagi Abah Didi dan istrinya.