
"Punggung abah hampir robek, karena bawa hampir 10 sapu, kalo gak laku, abah gendong sapu kemana-mana, kalo gak kuat, berenti di depan toko, sambil nangis, keinget istri abah makan apa hari ini.." - Abah Awang.
Tubuhnya bungkuk, pundaknya penuh luka, nafasnya sesak. Di usia 105 tahun, Abah Awang masih keliling jual sapu lidi seharga Rp5.000. Setiap hari ia berjalan hingga 5 kilometer. Kakinya gemetar, jari-jarinya penuh lebam. Beliau rela jualan demi bisa bawa makanan untuk istrinya di rumah.
"Udah 3 hari, gak ada yang mau beli sapu abah, kalo gak pegang uang, pulangnya jalan kaki, gak tau sampe rumah selamat atau enggak.." - Abang Awang.
“Hari ini cuma dapat lima ribu…” katanya sambil menunjukkan uang lusuh dari sakunya. Padahal sejak pagi ia sudah berkeliling.
Sering kali Abah pulang tanpa hasil. Kadang beli makanan tapi uangnya kurang. Sampai akhirnya, abah cuma bungkus 1 nasi dibagi 2 sama istrinya.
Ia tinggal di gubuk reyot di atas tanah orang lain. Bisa diusir kapan saja. Abah tak tahu harus membawa istrinya ke mana jika itu terjadi.
Abah Awang hanyalah satu potret lansia yang seharusnya menikmati masa tua dengan tenang, bukan berjuang sendirian di jalanan.
Maukah kamu jadi alasan Abah bisa makan dengan layak dan menjalani sisa hidupnya dengan lebih tenang? dengan cara:
1. Klik tombol “DONASI SEKARANG”
2. Masukkan nominal donasi
3. Pilih metode pembayaran transfer Bank
4. Dapatkan laporan melalui WhatsApp paling lambat 2x24 jam setelah berdonasi.
Terima Kasih Orang Baik!